STRATEGI PEMBELAJARAN
STRATEGI PEMBELAJARAN
PENGERTIAN
STRATEGI PEMBELAJARAN
Menurut (Al Muchtar, dkk., 2007: 1.2) Kata strategi berasal dari
bahasa Latin, yaitu ‘strategia’ yang berarti seni penggunaan rencana untuk mencapai
tujuan. Dalam konteks pembelajaran, strategi berkaitan dengan pendekatan
dalam penyampaian materi pada lingkungan pembelajaran. Strategi pembelajaran
terdiri dari metode, teknik, dan prosedur yang akan menjamin bahwa peserta
didik akan betul-betul mencapai tujuan pembelajaran. Strategi pembelajaran juga
dapat diartikan sebagai pola kegiatan pembelajaran yang dipilih dan digunakan
guru secara kontekstual, sesuai dengan karakteristik siswa, kondisi sekolah, lingkungan
sekitar serta tujuan khusus pembelajaran yang dirumuskan.
Strategi pembelajaran menurut Frelberg & Driscoll (1992) dapat
digunakan untuk mencapai berbagai tujuan pemberian materi pelajaran pada
berbagai tingkatan, untuk siswa yang berbeda, dalam konteks yang berbeda pula.
Dalam hal ini Seels dan Richey (1994: 31) menyatakan bahwa strategi pembelajaran
merupakan rincian dari seleksi pengurutan peristiwa dan kegiatan dalam
pembelajaran, yang terdiri dari metode-metode, teknik-teknik maupun
prosedur-prosedur yang memungkinkan peserta didik mencapai tujuan. Berdasarkan
Dick dan Carey (1978: 106) yang mengatakan strategi belajar mengajar mencakup
keseluruhan komponen pembelajaran yang bertujuan menciptakan suatu bentuk
pembelajaran dengan kondisi tertentu agar dapat membantu proses belajar peserta
didik. Guru memulai dengan suatu advance organizer (pemandu awal), kemudian ke
bagian-bagian pembelajaran, selanjutnya mengembangkan serangkaian langkah yang
digunakan guru untuk mengajar dengan ekspositori.
Merujuk pada beberapa pengertian di atas, maka strategi
pembelajaran dapat dimaknai sebagai rencana dalam melakukan kegiatan
pembelajaran yang dapat dilakukan pendidik bersama pebelajar agar tujuan
pembelajaran tercapai secara efektif dan efisien (Anitah, 2014; Juhji, 2018).
Strategi pembelajaran ini adalah satu elemen yang sangat berarti bagi guru agar
dipahami, dihayati, dan dilaksanakan. Nah Dari beberapa definisi tersebut dapat
ditarik simpulan bahwa strategipembelajaran adalah beberapa alternatif model,
metode, cara-cara menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar yang merupakan
pola-pola umumkegiatan yang harus diikuti oleh guru dan siswa untuk mencapai tujuaninstruksional
yang telah ditetapkan.
TEORI YANG MELANDASI STRATEGI PEMBELAJARAN
Merujuk
pada Crowl, Kaminsky & Podell (1997) yang mengemukakan tiga pendekatan yang
mendasari pengembangan strategi pembelajaran yaitu :
·
Advance
Organizers dari Ausubel, yang merupakan pernyataan pengantar yang membantu
siswa mempersiapkan kegiatan belajar baru dan menunjukkan hubungan antara apa
yang akan dipelajari dengan konsep atau ide yang lebih luas.
·
Discovery
learning dari Bruner, yang menyarankan pembelajaran dimulai dari penyajian
masalah dari guru untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelidiki dan menentukan
pemecahannya.
·
Peristiwa-peristiwa
belajar dari Gagne.
1.
Belajar
Bermakna dari Ausubel
Ausubel (1977)
menyarankan penggunaan interaksi aktif antara guru dengan siswa. pembelajaran
ini menekankan pada ekspositori dengan cara, guru menyajikan materi secara
eksplisit dan terorganisasi. Dalam pembelajaran ini, siswa menerima serangkaian
ide yang disajikan guru dengan cara yang efisien. Model Ausubel ini
mengedepankan penalaran deduktif, yang mengharuskan siswa pertama-tama mempelajari
prinsip-prinsip, kemudian belajar mengenal hal-hal khusus dari prinsip-prinsip
tersebut.
2.
Advance
Organizer
Guru menggunakan
advance organizer untuk mengaktifkan skemata siswa (eksistensi pemahaman
siswa), untuk mengetahui apa yang telah dikenal siswa, dan untuk membantunya
mengenal relevansi pengetahuan yang telah dimiliki. Advance organizer
memperkenalkan pengetahuan baru secara umum yang dapat digunakan siswa sebagai
kerangka untuk memahami isi informasi baru secara rinci.
3.
Discovery
Learning dari Bruner
Teori belajar
penemuan (discovery) dari Bruner mengasumsikan bahwa belajar paling baik
apabila siswa menemukan sendiri informasi dan konsep-konsep. Dalam belajar
penemuan, siswa menggunakan penalaran induktif untuk mendapatkan
prinsip-prinsip, contoh-contoh. Misalnya, guru menjelaskan kepada siswa tentang
penemuan sinar lampu pijar, kamera, dan
CD, serta perbandingan antara invention dengan discovery (misalnya, listrik,
nuklir, dan gravitasi). Siswa, kemudian menjabarkan sendiri apakah yang
dimaksud dengan invention dan bagaimana perbedaannya dengan discovery.
4.
Peristiwa-peristiwa
Belajar menurut Gagne Gagne (dalam Gagne & Driscoll, 1988) mengembangkan
suatu model berdasarkan teori pemrosesan informasi yang memandang pembelajaran
dari segi 9 urutan peristiwa yaitu Menarik perhatian siswa, Mengemukakan tujuan
pembelajaran, Memunculkan pengetahuan awal, Menyajikan bahan stimulasi,
Membimbing belajar, Menerima respons siswa, Memberikan balikan, Menilai unjuk
kerja dan Meningkatkan retensi dan transfer.
KOMPONEN-KOMPONEN
STRATEGI PEMBELAJARAN
Merujuk
pada Dick dan Carey (1996: 184) yang menyebutkan bahwa terdapat 5 komponen
strategi pembelajaran, yaitu kegiatan pembelajaran pendahuluan, penyampaian
informasi, partisipasi peserta didik, tes dan kegiatan lanjutan.
1)
Pendahuluan
: Menjelaskan tujuan pembelajaran yang diharapkan akan dapat dicapai oleh semua
peserta didik diakhir kegiatan pembelajaran, kemudian Lakukan appersepsi berupa
kegiatan yang menghubungkan antara pengetahuan lama dan pengetahuan baru yang
akan dipelajari. Tunjukkan pada peserta didik tentang eratnya hubungan antara
pengetahuan yang telah mereka miliki dengan pengetahuan yang akan dipelajari.
2)
penyampaian
informasi : Dalam kegiatan ini pendidik akan menetapkan secara pasti informasi,
konsep, aturan, dan prinsip-prinsip apa yang perlu disajikan kepada peserta
didik. Di sinilah penjelasan pokok tentang semua materi pembelajaran. Beberapa
hal yang perlu diperhatikan dalam penyampaian informasi, yaitu urutan, ruang
lingkup, dan jenis materi.
a.
Urutan
penyampaian materi pelajaran harus menggunakan pola yang tepat. Urutan materi
diberikan berdasarkan tahapan berpikir dari hal-hal yang bersifat kongkret ke
hal-hal yang bersifat abstrak atau dari hal-hal yang sederhana atau mudah
dilakukan ke hal-hal yang lebih kompleks atau sulit dilakukan seperti misalnya
dari teori ke praktik atau dari praktik ke teori. Urutan penyampaian informasi
yang sistematis akan memudahkan peserta didik cepat memahami apa yang ingin
disampaikan oleh pendidiknya (Nurani, dkk 2003:1.9-1.10).
b.
Materi
yang disampaikan atau ruang lingkup materi sangat bergantung padakarakteristik
peserta didik dan jenis materi yang dipelajari. Apabila tujuan pembelajaran
berisi muatan tentang fakta maka ruang lingkupnya lebih kecil dibandingkan
dengan tujuan pembelajaran yang berisi muatan tentang suatu prosedur. Yang
perlu diperhatikan pendidik dalam memperkirakan besar kecilnya materi adalah
penerapan teori Gestalt. Apakah materi akan disampaikan dalam bentuk
bagian-bagian kecil seperti dalam pembelajaran terprogram dan Apakah materi
akan disampaikan secara global/keseluruhan dulu baru ke bagian-bagian. Keseluruhan
dijelaskan melalui pembahasan isi buku, dan selanjutnya bagian-bagian
dijelaskan melalui uraian bab per bab (Nurani, dkk., 2003:1.10).
c.
Materi
pelajaran umumnya merupakan gabungan antara jenis materi berbentuk pengetahuan
(fakta dan informasi yang terperinci), keterampilan (langkah-langkah, prosedur,
keadaan, dan syarat-syarat tertentu), dan sikap (berisi pendapat, ide, saran,
atau tanggapan) (Kemp, 1977). Merill (1977: 37) membedakan isi pelajaran
menjadi empat jenis, yaitu fakta, konsep, prinsip, dan prosedur. Dalam
menentukan strategi pembelajaran pendidik harus terlebih dahulu memahami jenis
materi pelajaran yang akan disampaikan agar diperoleh strategi pembelajaran
yang sesuai.
3)
Partisipasi
peserta didik : Proses pembelajaran akan lebih berhasil apabila peserta didik
secara aktif melakukan latihan-latihan secara langsung dan relevan dengan
tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan (Nurani, dkk., 2003: 1.11). Ada beberapa hal penting yang terkait dengan partisipasi
peserta didik.
a.
Latihan
dan praktik seharusnya dilakukan setelah peserta didik diberi informasi tentang
suatu pengetahuan, keterampilan dan sikap. Agar materi tersebut benar-benar
terinternalisas.
b.
Umpan
balik. Melalui umpan balik yang diberikan oleh pendidik, peserta didik akan segera
mengetahui apakah jawaban yang merupakan kegiatan yang telah mereka lakukan itu
benar/salah, tepat/tidak tepat atau ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Umpan
balik dapat berupa penguatan positif dan penguatan negatif. Melalui penguatan positif
(baik, bagus, tepat sekali, dan sebagainya), diharapkan perilaku tersebut akan
terus dipelihara atau ditunjukkan oleh peserta didik. Sebaliknya melalui
penguatan negatif (kurang tepat, salah, perlu
disempurnakan dan sebagainya), diharapkan perilaku tersebut akan dihilangkan
oleh peserta didik (Nurani, dkk, 2003: 1.11)
Menguti perkataan Suparman (2005: 167) yang menyatakan bahwa ada
empat komponen utama strategi pembelajaran yaitu:
-
Urutan
kegiatan pembelajaran, yaitu urutan kegiatan pendidik dalam menyampaikan isi
pelajaran kepada peserta didik;
-
Metode
pembelajaran, yaitu cara pendidik mengorganisasikan materi pelajaran dan
peserta didik agar terjadi proses belajar secara efektif dan efisien.
-
Media
pembelajaran, yaitu peralatan dan bahan instruksional yang digunakan pendidik
dan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran.
-
Waktu
yang digunakan oleh pendidik dan peserta didik dalam menyelesaikan
setiap langkah dalam kegiatan pembelajaran.
PRINSIP-PRINSIP
STRATEGI PEMBELAJARAN
Mengutip
pendapat Sanjaya ( 2006: 129-131), Menurutnya ada empat prinsip umum yang harus
diperhatikan pendidik dalam penggunaan strategi pembelajaran, yaitu:
-
Berorientasi
pada tujuan. Dalam sistem pembelajaran, tujuan merupakan komponen yang utama. Segala
aktivitas pendidik dan peserta didik, mestilah diupayakan untuk mencapai tujuan
yang telah ditentukan, karena keberhasilan suatu strategi pembelajaran dapat
dilihat dari keberhasilan peserta didik mencapai tujuan pembelajaran.
-
Aktivitas.
Belajar bukan hanya menghafal sejumlah fakta atau informasi,
tapi juga berbuat, memperoleh pengalaman tertentu sesuai dengan tujuan yang
diharapkan. Karena itu, strategi pembelajaran harus dapat mendorong aktivitas
peserta didik, baik aktivitas fisik, maupun aktivitas yang bersifat psikis
seperti aktivitas mental.
-
Individualitas.
Mengajar adalah usaha mengembangkan setiap individu peserta didik. Walaupun
pendidik mengajar pada sekelompok peserta didik, namun pada hakikatnya yang
ingin dicapai adalah perubahan perilaku setiap peserta didik. Pendidik yang
berhasil adalah apabila ia menangani 40 orang peserta didik seluruhnya berhasil
mencapai tujuan; dan sebaliknya dikatakan pendidik yang tidak berhasil manakala
dia menangani 40 orang peserta didik 35 tidak berhasil mencapai tujuan
pembelajaran.
-
Integritas.
Mengajar harus dipandang sebagai usaha mengembangkan seluruh pribadi peserta
didik. Dengan demikian, mengajar bukan hanya mengembangkan kemampuan kognitif
saja, tetapi juga mengembangkan aspek afektif dan aspek psikomotor. Oleh karena
itu, strategi pembelajaran harus dapat mengembangkan seluruh kepribadian
peserta didik yang mencakup kognitif, afektif, dan psikomotorik secara
terintegrasi.
Keempat
prinsip tersebut sejalan dengan peraturan pemerintah No. 32 tahun 2013, yang
menyatakan bahwa proses pembelajaran pada satu satuan pendidikan
diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang,
memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang
cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat,
dan perkembangan fisik, serta psikologis peserta didik. Untuk itu setiap satuan
pendidikan melakukan perencanaan pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran
serta penilaian proses pembelajaran untuk meningkatkan efisiensi dan
efektivitas ketercapaian kompetensi lulusan.
STRATEGI DAN CIRI PENGAJARAN DALAM MENGHADAPI PERBEDAAN GAYA BELAJAR PESERTA
DIDIK
1.
Strategi
pembelajaran menghadapi orang visual :
a.
menggunakan
materi visual seperti, gambar-gambar, diagram dan peta
b.
Menggunakan
warna untuk menandai hal-hal penting
c.
dirangsang
untuk membaca buku-buku berilustrasi
d.
Menggunakan
multimedia (film, lagu, dll)
e.
Mendorong
anak mengilustrasikan fikiran-fikirannya dan gambar
2.
Strategi
belajar menghadapi orang kinestetik
a.
Jangan
paksakan belajar dalam waktu yang lama
b.
Mengajak
anak belajar dengan mengeksplorasi lingkungannya
c.
Mengizinkan
anak mengunyah permen karet saat belajar
d.
Menggunakan
warna terang untuk menghilite hal-hal penting dalam bacaan
e.
Mengizinkan
anak untuk belajar sambal mendengarkan music
3.
Strategi
belajar menghadapi auditorial
a.
Melibatkan
peserta didik berpartisipasi untuk diskusi
b.
Mendorong
peserta didik membaca materi pelajaran dengan suara keras
c.
Menggunakan
iringan music untuk mengajar
d.
Mendiskusikan
ide dengan peserta didik secara verbal
e.
Membiarkan
anak merekam pembelajaran dan mengulangi lagi di rumah
REFERENSI
Dr.
Wahyudin Nur Nasution, M. Ag, STRATEGI PEMBELAJARAN, Diterbitkan oleh: PERDANA
PUBLISHING, Jl. Sosro No. 16-A Medan, Cetakan pertama: Oktober 2017
Prof.
Dr. Sri Anitah W, Modul 1 Strategi Pembelajaran
Hasbullah,
Juhji, Ali Maksum, STRATEGI BELAJAR MENGAJAR DALAM UPAYA
PENINGKATAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM, Jurnal Pendidikan Agama Islam
Eduteligia, Vol. 3, No. 1, Januari – Juni 2019
Nurdyansyah,
Fitriyani Toyiba, PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF TERHADAP HASIL BELAJAR
PADA MADRASAH IBTIDAIYAH
Komentar
Posting Komentar