Kultur Sekolah
KULTUR SEKOLAH
Budaya sekolah merupakan himpunan norma-norma, nilai-nilai dan
keyakinan, ritual dan upacara, simbol dan cerita yang membentuk persona
sekolah. Sedangkan Schein (Peterson, 2002), budaya sekolah dimaknai sebagai jaringan
tradisi dan ritual yang kompleks, yang telah dibangun dari waktu ke waktu oleh
guru, siswa, orangtua, dan administrator yang bekerja sama dalam menangani
krisis dan prestasi. Pola budaya sangat abadi, memiliki dampak yang kuat pada
kinerja, dan membentuk bagaimana orang berpikir, bertindak,
dan merasa. Menurut Peterson (2002), suatu budaya sekolah mempengaruhi cara
orang berpikir, merasa, dan bertindak. Mampu memahami dan membentuk budaya
adalah kunci keberhasilan sekolah dalam mempromosikan staf dan belajar siswa.
Sedangkan menurut Willard Waller (Deal & Peterson, 2011), sekolah memiliki
budaya yang pasti tentang diri mereka sendiri. Di sekolah, ada ritual yang kompleks
dalam hubungan interpersonal, satu set kebiasaan, adat istiadat, dan sanksi
irasional, kode moral yang berlaku di antara mereka.
Dari beberapa narasi yang telah saya baca diatas maka dapat
disimpulkan bahwa kultur sekolah mengandung makna sebuah nilai dan keyakinan
berupa norma, tradisi, kepercayaan, yang menjadi ciri khas atau keunggulan
sekolah dalam rangka mewujudkan cita-cita bersama warga sekolah. Dalam
perencanaan budaya sekolah untuk guru, komite sekolah, yang sudah dewasa harus
mampu memberikan contoh baik yang bisa diteladani oleh para peserta didik. Budaya
sekolah dibina dengan maksimal dalam rangka untuk membentuk karakter positif
pada diri murid atau siswa. Kepala sekolah bekerjasama dengan para guru untuk
menerapkan kultur sekolah di lingkungan sekolah, sedangkan kepala sekolah
bekerjasama dengan orangtua murid atau siswa dalam menjaga karakter yang telah
dibentuk dari kultur yang didapat dari sekolah Contoh
yang di praktikan dalam perencanaan budaya sekolah adalah interaksi antara
manusia dengan alam. Ada beberapa prinsip pengembangan budaya sekolah dasar.
Pertama, berkelanjutan, artinya pengembangan dan pembinaan karakter dilakukan
secara terus menerus dalam waktu yang panjang. Proses tersebut mulai dari
perencanaan, sosialisasi, pelaksanaan pengembangan dan evaluasi secara
bersiklus.
· Pertama, siklus tersebut dilalui sekolah untuk pengembangan dan pembinaan budaya sekolah agar terciptanya implementasi budaya sekolah secara benar dan terinternalisasi. Kedua, terpadu. Pengembangan dan pembinaan budaya sekolah dilakukan secara terintegrasi dengan seluruh aktifitas sekolah. Semua manajemen sekolah yang terdiri atas manajemen kurikulum dan pembelajaran, peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan, hubungan sekolah dan masyarakat, pembiayaan, semuanya dirancang dan diarahkan agar kondusif. Ketiga, konsistensi. Tenaga kependidikan konsisten terhadap pembinaan dan pengembangan budaya sekolah. Keempat, Implementatif. Artinya bahwa slogan-slogan, poster atau banner-banner tetapi namun harus diimplementasikan berupa ucapan, sikap, dan perilaku seluruh warga sekolah. Kelima, menyenangkan. Bebas dari rasa takut, tertekan, terpaksa, dan lainnya untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.
Adanya slogan-slogan, mading, papan visi-misi dan lainnya ini
adalah bentuk usaha yang dilakukan para warga sekolah baik itu guru, staf,
kepala sekolah dan siswa untuk menuntun semua warga sekolah dalam mewujudkan
sebuah kultur sekolah yang ingin dicapai. Kultur sekolah selalu mengupayakan
semua warga sekolahnya dapat merasakan nyaman dengan melaksanakan nilai-nilai
kebersihan dan keindahan sehingga nantinya semua warga sekolah dapat
berprestasi baik itu siswa, guru, maupuan karyawan sekolah.
Selain itu ternyata fasilitas-fasilitas yang disediakan oleh
sekolah juga sangat berpengaruh pada kultur sekolah yang ingin dibentuk.
Fasilitas-fasilitas tersebut diantaranya seperti ruang laboratorium untuk menunjang
pembelajaran yang memuat praktek lapangan atau uji coba sebuah penemuan.
Kemudian mushola sekolah, dimana sarana ini dapat memfasilitasi kebutuhan warga
sekolah dalam beribadah. Beberapa kultur sekolah biasanya mencakup beberapa
kegiatan yang memanfaatkan sarana mushola tersebut seperti program kegiatan
sholad fardu berjamaah, sholad dhuha, baca surah yasin, kajian setelah sholad,
dan lain sebagainya. Selain fasilitas-fasilitas diatas, aktivitas warga sekolah
juga sangat berpengaruh dalam membentuk budaya sekolah seperti kegiatan
upacara, tradisi
memakai kerudung bagi siswa perempuan yang beragama Islam, kegiatan pentas
seni, interaksi warga sekolah, tradisi membuang sampah pada tempatnya, tradisi
membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai, jadi setiap pagi siswa, guru dan
kepala sekolah wajib membaca buku sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai
selain itu juga di sekolah ini menerapkan tradisi doa ketika mulai belajar dan
sesudah proses belajar mengajar berakhir, tradisi yang lain adanya baris ketika
mau masuk kelas dan sebagainya.
Peran
kultur sekolah terhadap prestasi siswa :
Mengacu
pada Depdiknas Upaya pengembangan budaya sekolah harus mengacu kepada beberapa
prinsip sebagai berikut:
·
Pertama,
berfokus pada visi, misi dan tujuan sekolah
·
Kedua,
penciptaan komunikasi formal dan informal
·
Ketiga,
inovatif dan bersedia mengambil resiko
·
Keempat,
memiliki strategi yang jelas
·
Kelima,
berorientasi kinerja
·
Keenam,
sistem evaluasi yang jelas
·
Ketuju,
memiliki komitmen yang kuat
·
Kedelapan,
keputusan berdasarkan konsensus
·
Kesembilan,
sistem imbalan yang jelas
·
Kesepuluh,
evaluasi diri (Depdiknas, 2007).
Budaya
atau kultur sekolah itu dapat terwujud dengan mengembangkan sekolah sebagai
organisasi pembelajar melalui peran kepala sekolah menjadi teladan dan
mengembangkan budaya sekolah memerlukan ketekunan, keharmonisan, dan
perjuangan. Pihak-pihak yang berperan dalam mewujudkan Budaya atau kultur
sekolah diantara seperti guru sebagai tenaga pendidik yang lebih dewasa untuk membantu
muridnya mencapai kedewasaan, kemudian peserta didik sebagai pihak yang ingin
dibentuk karakternya berdasarkan kultur sekolah tersebut, staf dan warga
sekolah lainnya sebagai pihak untuk membantu tercapainya kultur sekolah. Beberapa
hal yang tertanamkan dari pembiasaan-pembiasaan yang sering dilakukan oleh
warga sekolah diantaranya :
1. Kedisiplinan ( bisa dilihat dari ketepatan warga sekolah dalam masuk sekolah, ketaatan dalam mengikuti tata tertib ). Kebersihan ( bisa dilihat dari lingkungan sekolahnya seperti wc, ruang kelas, laboratorium, kantin, dsb. Hal ini juga bisa dibuktikan dengan kegiatan lomba adiwiyata. Ketika sebuah sekolah sudah memenuhi kriteria dan memenangkan lomba adiwiyata tersebut maka dapat dikatakan bahwa sekolah tersebut sudah berhasil dalam meweujudkan nilai kebersihan sekolah hasil dari kultur atau budaya yang sering dilakukannya ). Prestasi siswa ( bisa dilihat dari keikutsertaan murid dalam sebuah ajang perlombaan dan memenangkannya hal ini terlihat pada piagam-piagam sekolah sebagai wujud nyata dari keberhasilan kultur sekolah dalam mewujudkan prestasi siswa ). Pembentukan karakter siswa ( salah satunya bisa dilihat dari sikap-sikap murid dalam pembelajaran maupun diluar pembelajaran ). Kereligiusan ( bisa dilihat dari murid-murid yang antusias dengan sendirinya dalam melaksanakan ibadah disekolah dari program-program yang sudah dibuat seperti kegiatan sholad fardu berjamaah, sholad dhuha, baca surah yasin, kajian setelah sholad, dan lain sebagainya ). Dan sebagainya ( sesuai dengan kultur yang ingin dicapai sekolah ).
Contoh
kultur sekolah dalam bentuk Slogan atau Banner :
Biasanya
disetiap sekolah selalu dijumpai visi-misi dan budaya sekolah yang ditempel
atau dibuat dalam bentuk Banner maupaun Slogan sebagai wujud dari usaha untuk
membentuk Karakter yang sesuai dengan Kultur sekolah yang ingin dicapai seperti
:
1. 1. D :
Datang tepat pada waktunya
2. 2. I : Isi
daftar hadir
3. 3. S :
Siapkan sarana kerja sebaik-baiknya
4. 4. I :
Isi jam kerja dengan kegiatan sesuai tanggung jawab
5. 5. P :
Patuhi semua peraturan
6. 6. L :
Laksanakan tugas kewajiban sesuai dengan kewenangan
7. 7. I :
Izin apabila tidak hadir
8. 8. N :
Norma-norma harus selalu dijunjung tinggi
Hal
lain yang dijadikan sebagai kultur sekolah seperti Budaya malu diantaranya
ialah :
1. 1. Aku
malu terlambat sekolah
2. 2. Aku
malu melanggar peraturan
3. 3. Aku
malu sering tidak masuk sekolah
4. 4. Aku
malu menangis di sekolah
5. 5. Aku
malau malas belajar
6. 6. Aku
malu tidak memakai seragam sekolah
7. 7. Aku
malu mengganggu teman
8. 8. Aku
malu jahat sama teman
9. 9. Aku malu melihat teman pintar
Jadi Adapun kultur sekolah lainnya yang dibina dan karakter yang
dibentuk dari adanya kultur sekolah adalah seperti : Kultur 5 S (Senyum Salam Sapa
Sopan dan Santun), kultur unggah ungguh, dan kultur absen pagi, yang dilakukan
oleh siswa, guru dan kepala sekolah untuk memasuki lingkungan sekolah.
Beberapa
kultur sekolah yang berlandaskan visi-misi sekolah
1.
Kultur
unggul dalam prestasi ( melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif
seperti mengembangkan olahraga, seni dan budaya )
2.
Kultur
disiplin ( mengembangkan pribadi yang cinta tanah air, meningkatkan
kedisiplinan dan mengutamakan kerja sama. Semua ini diwujudkan dalam bentuk
tata tertib )
3.
Kultur
iman dan taqwa ( menumbuhkan penghayatan terhadap agama contohnya seperti doa
bersama, apel baca Qur'an, baca Yasin setiap Jumat, sholad berjamaah, sholad
Sunnah, dan sebagainya ).
Implikasi
Kultur Sekolah
Deal
& Peterson (1999) memperluas kajian yang menunjukkan betapa kultur
berpengaruh terhadap berjalannya fungsi sekolah. Berikut ini deskripsi mengenai
aspek-aspek kultur sekolah yang berpengaruh terhadap fungsi sekolah:
1. 1. Visi
dan Nilai (Vision and Values)
citra ideal dan unik tentang masa depan atau orientasi masa depan
terhadap kondisi ideal yang dicita-citakan Menurut Parsons & Shils (Enz,
1986), komponen nilai meliputi: kognitif, emosional, dan evaluatif.
2. 2. Upacara
dan Perayaan (Ritual and Ceremony)
Upacara, tradisi, dan perayaan sekolah bermanfaat dalam membangun
jaringan informal yang relevan dengan budaya.
3. 3. Sejarah
dan Cerita (History and Stories)
Sejarah dan cerita masa lalu penting dalam mengalirkan dan
memancarkan energi budaya. masa lalu dapat membangkitkan semangat untuk mewujudkan
kejayaan masa depan.
4. 4. Arsitektur
dan Artefak (Architecture and Artifacts)
Sekolah biasanya memiliki simbol-simbol seperti: arsitektur, motto,
kata-kata dan tindakan. Setiap sekolah memiliki lambang/logo sekolah, motto,
lagu
(mars/hymne), dan seragam sekolah yang mencerminkan visi dan misi sekolah
Praktek pengembangan Budaya Sekolah
1.
Prestasi
Akademik
Prestasi
akademik ini biasanya terkait dengan sejumlah mata pelajaran pokok yang
dipelajari di sekolah. Sebagian besar orang tua siswa cenderung menghargai prestasi
akademik daripada prestasi lainnya.
2.
Non-Akademik
Prestasi non-akademik juga dapat dikembangkan melalui kultur sekolah yang
menghargai prestasi olah-raga, seni, dan ketrampilan lainnya.
3.
Karakter
Karakter berkaitan dengan moral dan berkonotasi positif. Pendidikan untuk
pembangunan karakter yang mencakup pengembangan substansi, proses dan suasana
atau lingkungan yang menggugah, mendorong, dan memudahkan seseorang mengembangkan
kebiasaan yang baik.
4.
Kelestarian
Lingkungan Hidup
sekolah yang
fokus dalam pengembangan sekolah hijau (green school) memiliki visi-misi yang
berorientasi pada kehidupan dan kondisi lingkungan masa depan yang lebih baik
dan berkelanjutan (sustainability).
REFERENSI
Ariefa Efianingrum, Kultur Sekolah, Jurnal Pemikiran Sosiologis Volume 2 No. 1, Mei 2013
Novita Wulan Sari, Prof. Dr. Farida Hanum, M.Si, Peran Kultur Sekolah Dalam Membangun Prestasi Siswa Di MAN 1 Yogyakarta.
Wiwik Kusdaryani, dkk, Penguatan Kultur Sekolah Untuk Mewujudkan Pendidikan Ramah Anak, Cakrawala Pendidikan, Februari 2016, Th. XXXV, No. 1
Fify Rosaliana, Skripsi Kultur Sekolah Di SMA Gadjah Mada Yogyakarta.
Kinanthi Sinta Dewi, Manajemen Kultur Sekolah Untuk Meningkatkan Pendidikan Karakter Anak di SD Nglindur Girisbuwo, Yogyakarta, 28 September 2019
Roemintoyo, Manajemen
Kultur Sekolah, JIPTEK, Vol. VI No. 2, JULI 2013
Komentar
Posting Komentar